
“Untuk Mempercepat penanganan sampah lingkungan dibutuhkan rekayasa sosial, mulai dari Desa sampai ke pusat kota”
Sumbawa, lensa-news.com,- Salah satu isu yang hingga kini masih hangat, meskipun setiap tahun di gaungkan. Seolah-olah ta lekang waktu yakni ; “Problematika Sampah’” yang bahkan diseminarkan dengan melibatkan para pakar, pembuat kebijakan dan pengelola sampah swasta, dan pihak kampus mahasiswa dan dosen. “Saya rasa, kita semua perlu berinovasi secara bersama-sama dalam hala penangan dan pengelolaan sampah terutama di lingkungan kita masing-masing. Dan di sinilah dibutuhkan rekayasa sosial yakni bagaimana memotivasi masyarakat, untuk bekerja bersama beringin dalam rangka percepatan penanganan dan pengelolaannya”. Demikian tegas Kepala Desa Kerato saat di wawancara terkait soal Usulan Project Proposal yang di ajukan pihaknya kepada Pemprop NTB terkusus”Program Desa Berdaya.
Salah satu problematika utama sampah, lanjut Pria pemilik senyum khas itu, adalah rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya. Kebiasaan membuang sampah sembarangan, kurangnya budaya memilah sampah, serta minimnya penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) menyebabkan banyak sampah berakhir di tempat pembuangan akhir tanpa proses pengolahan yang memadai. ” keterbatasan sarana dan prasarana pengelolaan sampah juga menjadi tantangan, dan kendala utama” ungkapnya, dan itulah menjadi salah satu alasan utama kenapa pihaknya memilih segmentasi”lingkungan terkhusus pengamanan dan pengelolaan sampah dalam menyambut program Desa BERDAYA yang di inisiasi Pemprov NTB.
“Tidak semua daerah memiliki sistem pengangkutan, tempat pengolahan, dan fasilitas daur ulang yang memadai” Ungkanya. .berdampak terjadi penumpukan sampah yang dapat mencemari tanah, air, dan udara. Sampah plastik yang sulit terurai bahkan dapat bertahan hingga ratusan tahun dan menjadi ancaman serius bagi ekosistem.Dampak lain dari problematika sampah adalah munculnya berbagai masalah kesehatan. Tumpukan sampah dapat menjadi sarang lalat, nyamuk, tikus, dan berbagai vektor penyakit lainnya. Selain itu, pembakaran sampah secara sembarangan menghasilkan polusi udara yang berbahaya bagi kesehatan manusia.
“Jangan Hilirisasi di Ternak saja, Penanganan Sampah juga musti di mulai dari Desa atau daerah-daerah pelosok” cetusnya seraya tersenyum.
untuk itu, lanjutnya; penagangan dan pengelolaan sampah ini semestinya beriringan dengan penganan lingkungan sosial masyarakat. Yakni dengan melakukan “Rekayasa Sosial” .
Rekayasa sosial dalam pengelolaan sampah adalah upaya mengubah perilaku, kebiasaan, dan budaya masyarakat agar lebih peduli terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan. Persoalan sampah sesungguhnya bukan hanya masalah teknis, tetapi juga masalah perilaku manusia. Karena itu, solusi pengelolaan sampah harus menyentuh aspek sosial dan budaya masyarakat.
Mengapa Rekayasa Sosial Penting?. Banyak program pengelolaan sampah gagal bukan karena kurangnya fasilitas, melainkan karena rendahnya kesadaran masyarakat. Tempat sampah tersedia, kebijakan penjemputan kerumah-rumah warga dilakukan, tetapi masih banyak yang membuang sampah sembarangan. Oleh sebab itu, perubahan perilaku menjadi kunci keberhasilan tata kelola sampah.
Selanjutnya, dalam rangkaiannya, dibutuhkan pran PemDes, untuk merekayasa Kekuasaan dengan membuat skema mekanisme soal aturan yang mengharuskan masyarakat mengikuti dan menaati. Yang pada Akhirnya, nanti mengatasi problematika sampah memerlukan kerja sama semua pihak.
Pemerintah perlu memperkuat kebijakan dan infrastruktur pengelolaan sampah, sementara masyarakat harus meningkatkan kesadaran dan partisipasinya dalam menjaga kebersihan lingkungan.
editorial: LENSANEWS.com
