
Sumbawa Lensa-News.com –Celotehan nyeleneh para advokat muda mengalir ringan, mengisi rutinitas coffee break di meja bundar; tempat paling sakral bagi kami.
13 Januari 2026.
Di tengah kesibukan masing-masing, kami selalu menyempatkan diri untuk berkumpul. Obrolan ringan, kadang lucu, sesekali dramatis, tak jarang diselingi celotehan-celotehan nakal yang membuat kami terbahak, saling singgung, saling usil, tanpa beban.
Ironisnya, musim hujan sedang tak bersahabat. Hujan turun tiba-tiba, tanpa jeda yang pasti, menahan gerak langkah dan rencana. Namun siang itu hujan mereda sejenak, seolah memberi ruang bagi kami untuk bertemu—tanpa jadwal, tanpa rencana, justru terasa lebih seru.
Saat tawa mulai pecah, terik panas tiba-tiba menyeruak. Di sekeliling kami, sisa air hujan masih menggenang di pinggir jalan. Seorang teman nyeletuk polos,
“Ini kan cuaca lagi panas terik , kok bisa basah?”
Spontan kami tertawa bersama. Celoteh sederhana yang entah kenapa begitu menghibur, menutup pertemuan siang itu dengan gelak yang lepas.
Akhirnya kami sepakat memberi judul pada pertemuan singkat itu:
Panas Basah —
tawa, canda, dan kebersamaan, tanpa peduli siapa pun yang ada di sekeliling kami. ( Bj Ln)

