
Sumbawa Lensa-News.com 6 November 2025 — Di tengah udara pagi yang hangat, Aula H. Madilaoe ADT, Kantor Bupati Sumbawa, dipenuhi semangat para petani dan penggerak kelembagaan air. Lebih dari tiga ratus peserta dari berbagai kecamatan hadir, menyatukan harapan yang sama: menjaga air, menjaga kehidupan.
Dalam suasana penuh keakraban dan optimisme itu, Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., membuka secara resmi Pembinaan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), Gabungan P3A (GP3A), dan Induk P3A (IP3A) — sebuah langkah nyata untuk memperkuat pengelolaan air demi ketahanan pangan yang berkelanjutan.
“Air adalah urat nadi pertanian. Bila air terkelola baik, pangan akan aman, dan petani akan sejahtera,” ujar Bupati H. Jarot lantang, disambut tepuk tangan peserta. Ucapannya bukan sekadar retorika, tetapi refleksi dari keyakinan bahwa masa depan pangan Sumbawa bergantung pada kesadaran kolektif dalam menjaga sumber daya air.
Bupati H. Jarot mengingatkan bahwa keberhasilan Sumbawa sebagai lumbung pangan utama di NTB tidak hanya ditentukan oleh luas lahan atau teknologi modern, tetapi juga oleh kemandirian dan kekuatan kelembagaan petani.
“Air yang mengalir di saluran irigasi bukan sekadar menghidupi tanaman, tapi juga menyambung kehidupan banyak keluarga di Sumbawa,” ungkapnya dengan nada hangat.
Ia menegaskan, pembinaan P3A, GP3A, dan IP3A bukan hanya forum administratif, melainkan ruang belajar bersama untuk membangun kesadaran baru — bahwa setiap tetes air adalah tanggung jawab bersama.
“Jika kita kehilangan hutan, kita kehilangan air. Jika kehilangan air, kita kehilangan masa depan,” tegasnya dengan sorot mata serius.

Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Sumbawa, Muhammad Sofyan, ST., dalam laporannya menuturkan bahwa kegiatan ini diikuti lebih dari 300 peserta dari berbagai kecamatan. Tujuannya jelas: memperkuat kapasitas kelembagaan dan kemampuan teknis dalam mengelola sumber daya air irigasi secara efektif, partisipatif, dan berkelanjutan.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan fluktuasi musim yang kian ekstrem, kegiatan pembinaan ini menjadi momentum penting. Ia mempertemukan pemerintah dan petani dalam satu visi: menjadikan air bukan sekadar sumber daya, melainkan warisan yang harus dijaga bersama.
Air, Pangan, dan Harapan
Sumbawa dikenal subur oleh karena airnya. Dan kini, melalui penguatan kelembagaan petani, pemerintah berupaya memastikan kesuburan itu tetap hidup — bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk generasi mendatang.
“Menjaga setetes air hari ini berarti menjamin sepiring nasi esok hari,” ujar Bupati H. Jarot menutup Sambutannya, meninggalkan pesan sederhana namun sarat makna bagi para petani yang hadir

.
Kegiatan pembinaan P3A, GP3A, dan IP3A ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan Tonqgak penting dalam perjalanan Sumbawa menjaga kedaulatan pangan. Melalui kolaborasi lintas sektor dan kesadaran ekologis yang terus ditumbuhkan, Sumbawa membuktikan bahwa ketahanan pangan dimulai dari kesetiaan menjaga alam — dimulai dari setetes air yang tak pernah berhenti mengalir.(LN)
